Kamis, 02 Oktober 2014

Lesson From Life

      Hi, here i'm again. there's so many thought in my mind that i wanna tell you bout it. I'm 22 years old right now. In this age, what have I done to others? In this age, What have I learn from lesson? back to past time, I think i'm doing nothing. I live depend on my parents, spend their money, and do nothing.
     Jika sadar dari dulu kalau saya menyukai dunia sosial dan berteman dengan banyak oranng mungkin dari dulu saya melakukan hal-hal yang berguna. Saya banyak belajar dari hidup ini, terima kasih sebelumnya karena saya telah dilahirkan dari orang tua saya, membesarkan saya dengan penuh pelajaran dan mengajarkan saya tentang berbagai hal. Walaupun mereka bukan orang yang "yes" dimata masyarakat tapi di mata saya mereka adalah orang sukses dalam mendidik dan membesarkan saya sampai sekarang.
     Oke, pelajaran dari kehidupan yang saya dapatkan ini adalah pelajaran antara bogor dan madiun. Dua daerah ini banyak memberikan pelajaran penting bagi saya. Pertama, Madiun. Saya tumbuh dan besar di madiun selama 13 tahun karena sebelumnya saya tinggal di Bojonegoro. Disini saya tahu bagaimana menjadi seorang pemimpin, disinilah saya tahu kalau saya ternyata punya jiwa leadership. Bertemu dengan teman-teman di SD, SMP, dan SMA memberikan kesan tersendiri. Selama menempuh pendidikan disana saya merasakan bagaimana menjadi orang yang "dihargai", "disukai" oleh banyak orang, dan merasa memiliki "kedudukan" yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Jujur, itu merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan dimana suara saya didengarkan oleh semua orang, so much fun. Saya merasakan bagaimana serunya berteman dengan banyak orang, mulai dari membentuk "geng" hingga menjalani pertemanan yang biasa. Semua itu saya rasakan. Saya ingat hidup disini memberikan pengalaman juga tentang cinta, haha iya cinta. Bagaimana senangnya bisa menyukai orang lain, disukai oleh orang lain, bahkan sampai disakiti dan dibohongi oleh orang lain. Saya merasakan semuanya. Dan setelah dipikir-pikir ini semua memang bagian dari pelajaran hidup. Puas dengan kondisi saya di saat saya memiliki ke-"eksis"-an diatas teman-teman saya membuat saya menjadi sombong dan selalu ingin "dilihat" oleh orang lain. Saya melakukan banyak hal demi mencapai rasa "eksis" di depan banyak orang. Pikiran saya pendek, saya tidak melihat ada orang lain yang "lebih" dari saya. Kehidupan yang saya jalani sampai saat ini membuat saya bersyukur karena orang tua saya ikut membantu dalam membatasi diri. Tidak seseram teman-teman yang mungkin berhubungan dengan narkoba atau barang haram lainnya tapi pergaulan bebas yang cukup dengan saya sewaktu tinggal di Madiun. Banyak bergaul dengan orang lain membuat saya memiliki banyak teman baru juga dan kenalan. Tapi sayangnya saya tidak memilih siapa mereka dan bagaimana perilaku mereka. Saya dekat dengan teman-teman yang suka minum minuman keras, saya dekat dengan teman-teman yang suka bergaul tanpa batas. Tapi untungnya orang tua membatasi dan memberikan pelajaran pada saya tindakan mana yang harus saya ambil. Sekarang, saat notes ini ditulis, banyak hal yang berubah dari madiun. Saya tetap berteman dengan mereka tapi dengan pembatasan diri. Pelajaran pentingnya adalah Orang tua pasti tau yang terbaik buat anaknya dan mereka akan memberikan pelajaran yang tidak disadari oleh anaknya saat itu, Hidup untuk eksis akan membawa petaka di waktu nanti, inilah yang saya rasakan.
     Kedua adalah Bogor. Hampir 4 tahun saya tinggal disini untuk menempuh pendidikan. Selama 3 tahun yang telah saya lalui banyak hal yang saya dapatkan, banyak sekali. Saya bertemu dengan orang-orang baru, sahabat-sahabat baru, orang tua baru, saudara baru, sampai dengan budaya yang baru. Disini saya belajar tentang banyak hal, termasuk dengan ke-eksis-an yang telah saya bawa dari madiun. Terbiasa dengan perhatian yang diberikan oleh orang lain saya melakukannya di dunia perkuliahan ini. Ini saya lakukan tanpa sadar bahwa disini berbeda dengan disana. Banyak kepala dengan banyak pikiran belum tentu akan menerima apa yang saya lakukan. Dan ternyata benar, kesombongan saya berdampak pada "manipulasi" pertemanan. Banyak orang-orang yang menjadi teman di depan tapi berkata di belakang. Hal ini membuat saya sadar, menjadi saya yang tidak mengicar eksis akan jauh terasa lebih baik karena saya tahu siapa yang akan menjadi "teman" saya. Jauh dari orang tua, bersama dengan teman lain kami merasa senasib. Sangat menyenangkan bertemu dengan mereka-mereka yang telah memberikan banyak hal. Saya tahu, banyak diantara yang mengenal saya pasti tidak suka dengan saya, saya tahu itu. Dan mungkin saya juga saya mungkin tidak suka dengan mereka. It's okay because this is life anything can happen. I can hate you, so do you. Belajar berbagi dengan orang-orang yang lebih membutuhkan sangat lebih terasa disini. Saya jadi tahu bagaimana rasanya membantu orang lain dan bagaimana rasanya membutuhkan bantuan orang lain. So many kind people in here. Bersyukurlah di setiap keadaan dan pasti ada orang baik disekitarmu, percayalah.
     Ada quote yang berkata, the best lesson in this world is experience and we get experience from life. So, as long as I still live in this world I will do the best to get my best experience :) -the end-

Kamis, 22 Mei 2014

Ada saat rasa bersalah itu sangat terasa.

     Ada saat dimana seseorang itu mempunyai rasa bersalah yang amat sangat. Rasa bersalah itu muncul dari kesalahan terakhir yang dibuat tapi itu merupakan kompilasi dari semua rasa bersalah yang ada. Apalagi kalau ini berkaitan dengan orang yang disayanginya, rasa bersalah itu bisa tidak terlupakan oleh hiburan apapun. Ini yang saya alami saat ini. Entah kenapa saya sangat merasa bersalah untuk sesuatu hal kepada orang tua, terutama ibu. Meskipun ibu sebenarnya tidak menganggap hal yang terjadi pada saya ini tidak begitu bermasalah hanya saja saya dapat pengalaman yang sangat penting. 
     Intinya, saya udah menghilangkan uang orang tua untuk hal yang sebenernya bisa dicegah jika saya berpikir tenang dan tidak terburu-buru. Salah satu kelemahan saya, "grusa-grusu" kalo kata orang jawa. Ketika ada suatu kejadian yang melibatkan peran saya, maka pikiran yang selintas di otak ini yang saya akan ambil dan menyesal di akhir. Terakhir terjadi ya begitu, karena pikiran saya pendek itu orangtua jadi ikut terbawa suasana buru-buru itu tadi dan begitulah, hilang sudah. Uang itu "hilang" ke orang yang tidak tepat atau bisa dibilang saya kena tipu. Kejadiannya begitu singkat, by phone dan seolah saya kena hipnotis karena begitu meyakinkan acara tersebut. Sampai sekarang sebenarnya saya yakin kalau itu bukan sebuah penipuan tp orang tua bilang kalau ini adalah penipuan. 
     Pada saat kejadian, ya karena pikiran saya yang pendek saya ngikut aja perintah mereka dan orang tua yang saya telpon juga begitu. Ketika diminta melakukan transfer berulang kali baru sadar kalau ini bukan langkah yang tepat untuk acara tersebut. Dari situ baru sadar kalau ini adalah penipuan. Berulang kali telpon ibu dan diskusi singkat pada saat kejadian yang akhirnya sampai pada kesimpulan kalau saya kena tipu setelah transfer sekian uang. Versi lebaynya sih, dunia berhenti sejenak, suara-suara menghilang dan jadi hening. Tanpa sadar saya meneteskan air mata tapi berusaha tidak terlihat menangis karena masih telponan sama ibu. Baru setelah telpon ditutup, saya menundukkan kepala dan tes..tes..tes.. sambil berharap tidak ada orang yang lewat dijalan itu dan mengenali muka saya. Seketika juga mood saya hancur bahkan sampai hari setelah kejadian ini.
     Sebenarnya ikhlas dengan materi yang udah hilang itu karena yang punya uang, orang tua, juga sudah mengikhlaskan. Tapi yang membuat saya tetap merasa bersalah adalah ini terjadi karena saya berpikir pendek, tidak mencerna terlebih dulu apa yang sedang terjadi. Analisa saya kurang pada saat itu karena saya terlalu senang untuk mendapatakan kesempatan membahagiakan orang tua. Yang saya inginkan adalah orang tua bahagia karena saya sudah dapat mandiri dengan kehidupan baru saya nanti tapi yang ada adalah saya membuat mereka kehilangan lagi. Ibu berkata, " ya ini harganya pengalaman yang kamu dapet, kalau ga ngeluarin uang itu maka kamu ga akan dapet pengalaman semacam ini kan". Iya juga, bener kok kata ibu. Tapi tetap aja, semuanya di masalalu yang pernah saya buat kesalahan muncul dan rasa bersalah muncul lagi. Pada akhirnya saya hanya bisa menangis karena tidak bisa mengucapkan ini ke orang lain.
     Setiap malam cuma bisa bilang maaf sendiri sambil nangis. Bahkan lagu ceria pun berubah menjadi lagu sedih dan saya tetap menangis. Maaf bapak, ibu, saya melakukan kesalahan lagi.

Kamis, 03 April 2014

Garis yang Menakjubkan

    Sekali lagi, pelajaran itu bisa kita dapatkan dimana saja, kapan saja, dan dengan apa saja. Kali ini saya mendapatkan pelajaran penting dari seseorang, seorang sahabat lebih tepatnya. Sekian lama tidak pernah chitchat bareng dia, akhirnya suatu waktu ketemu untuk membicarakan banyak hal, seputar dia dan saya.
     Percakapan singkat ini membuatku menarik kesimpulan, dia punya banyak hal yang aku tidak dan aku sebenarnya bisa mendapatkannya. Cerita ini bermula kalau sahabat saya ini akan pergi ke luar negeri untuk suatu acara. Acaranya bukan sembarangan, dia mendapatkan kesempatan untuk hadir disana karena perjuangannya sendiri. Perjuangan ini dia lewati tidak gampang. Usaha, kerja keras, dan doa yang menurutku dapat membawanya ke dalam keadaan yang dia lalui saat ini. Sangat menganggumkan kalau menurutku, melihat sahabatku dapat mendapatkan pengalaman baru di lingkungan yang berbeda. Aku juga ingin seperti dia. Cerita perjalanannya hingga sampai pada hari keberangkatannya ke luar negeri berlangsung dan sampai pada episode sedekah. Dia bercerita kalau sebelum pergi ke luar dia diharuskan membayar ke pihak penyelenggara sebesar sekian untuk administrasinya dan kalau tidak pada saat itu berarti dia tidak jadi berangkat. Dia ternyata membayar uang administrasinya menggunakan uang dia sendiri bukan uang orang tuanya, wow, itu amazing. Dengan jumlah yang sangat besar menurutku dan dia membayarnya sendiri tanpa ada campur tangan orang tua di hebat. Dia hebat karena bisa melakukan kegiatan dengan uangnya sendiri, aku belum tentu bisa melakukannya. Orang tuanya sangat mampu untuk membantu membiayai itu semua tapi dia tidak bilang kalau harus membayar administrasinya. Dan pada akhirnya dia baru cerita ke orang tuanya beberapa hari sebelum berangkat. Orang tuanya marah karena orang tuanya mampu membantu membayar administrasi itu. Jawaban sahabatku membuatku kagum. Dia bilang kalau untuk apa juga memakai uang orang tua, dia sendiri udah ada uang tabungan jadi tidak perlu ngerepotin mereka. Kalau aku mungkin aku akan bilang ke orang tua dan dibiayai dan uang tabunganku akan aku gunakan untuk yang lain. Memang berbeda antara aku dan dia. Orang tuanya memberikan biaya sebagai "ganti rugi" biaya administrasi yang telah dibayarkan sebelumnya dan itu melebihi harapannya. Tidak hanya itu, aku senang mendengar kalau rejeki terus datang ke dia menjelang keberangkatan kesana. Biaya untuk melakukan perjalanan itu memang tidak murah jadi butuh banyak dana. Dia bilang kalau dia abis ketiban rezeki setelah sedekah. Sedekah loh ya, Subhanallah. Dia dengan ikhlas bersedekah dan mendapatkan gantinya berkali-kali lipat dari yang dia bayangkan. Orang ini benar-benar gila. Aku rasa dia mendapatkan garis lucky, semua kejadian yang dia ceritakan merupakan berkah. Aku belajar Allah memang membuat garis kehidupan yang indah. Garis yang Dia buat tergantung pada tingkah laku kita di dunia sehingga Dia bisa melanjutkan garis itu, apakah lurus, belok, atau berkelok. Kalau temanku tidak usaha untuk kegiatan itu dia tidak akan pergi ke luar negeri. Kalau temanku di awal bilang ke orang tuanya tentang biaya itu maka akan lain lagi cerita selanjutnya. Dan kalau temanku tidak memberikan sedekah maka rezeki berkali-kali lipat itu entah akan datang kepadanya apa tidak dan ketika rezeki itu tidak datang entah dia akan cukup biaya untuk pergi kesana apa tidak. Hah, garis yang telah dia buat sungguh menakjubkan!
     Saya kapan? InshaAllah bulan Juni 2014 ke Brazil. Amin.

Selasa, 31 Desember 2013

I Love Football, dulu hingga sekarang

   Liat drama korea Reply 1994 yang adegan tahun 2002 tentang FIFA World Cup di Jepang-Korea sekilas teringat masa lalu. Tahun 2002 itu pertama kalinya aku menyukai sepak bola. Pertama kali liat pertandingan yang dimainkan oleh 22 orang saling rebutan bola sepak. Dan untuk pertama kalinya aku menyukai sepak bola Brazil.
     Waktu itu kelas 4 SD semua orang sedang heboh-hebohnya bicara soal bola. Awalnya aku tidak mengerti tentang bola itu, mencoba mengabaikan apa yang sedang orang-orang bicarakan. Orang tua sebenarnya yang menghasutku untuk menonton bola sampe akhirnya aku suka. Saat tv di rumah di monopoli oleh bapak ibu, apa daya aku ga bisa berbuat apa-apa kecuali ikut menonton. Pertama bengong menontonnya, ga tahu maksudnya dan bingung kenapa bapak ibu suka menghujat pemain-pemain yang ada di TV. Karena pertandingan World Cup itu diadakan 1 bulan full maka ga ada pilihan lain kecuali ngikut bapak ibu untuk ikut nonton. Semakin sering ikut nonton jadi semakin tertarik soal sepak bola. Mulai dari babak penyisihan, 16 besar, perempat final, semi final, sampai final aku, bapak, dan ibu ngikutin tanpa lewat. Waktu itu kalau ga salah waktunya sore jadi semuanya bisa nonton bola. Aku yang awalnya ga tahu soal bola jadi tahu apa itu off side, hands ball, kenapa tim bisa dapat tendangan bebas, tendangan pinalti, dan segala macem. Bahkan sampe ikutan menghujat pemain-pemain bola di tv pun aku bisa haha.
    Ada satu pertandingan dimana aku langsung jatuh cinta pada negara itu sampe sekarang. BRAZIL. Entah kenapa aku sangat sangat sangat suka dengan negara ini, terutama masalah sepak bola. Jatuh cinta ke Brazil ini dimulai dari saat liat pertandingan Brazil yang pemainnya Ronaldo dan Ronaldinho. Aku suka bukan karena mereka ganteng, ya memang mereka jelek. Tapi Ketika main bola, wow, semua aura mereka itu keluar. Menurutku kemampuan mereka untuk bermain bola itu tidak semua orang punya, itu pemikiran sekarang. Dulu waktu kelas 4 SD yang aku tahu ya mereka mainnya lebih bagus dari lawan makanya aku suka. Aku lupa apakah pas tahun 2002 itu Kaka udah masuk timnas Brazil atau belum tapi aku semakin suka dengan sepak bola negara Samba ini karena Kaka, he's totally awesome, jjang! Waktu jaman SD banyak orang-orang yang lebih mendukung negara lain seperti Inggris, Jerman, Italia, tapi pas saat itu aku tidak mendengar kata Brazil disebut. Anehnya, saat orang-orang banyak yang bilang mendukung negara-negara aku justru mendukung Brazil. Tapi memang bukan tanpa alasan aku memilih Brazil ya, hehe. Saat Brazil maju ke final dan akhirnya menjadi juara dunia mengalahkan Jerman, waaah, senangnya bukan main aku. Masih inget sampe sekarang aku dulu loncat-loncat sendiri kaya orang gila waktu Brazil menang, padahal aku masih kelas 4 SD itu. Ga paham lagi kenapa dulu bisa begitu. Yang penting senang aja Brazil bisa jadi juara dunia di Jepang-Korea Selatan.
   Setelah World Cup itu aku mulai mencari para pemainnya, mengikuti semua perkembangan mereka sampe akhirnya aku suka pada sepak bola club-club di eropa. Gara-gara Brazil dan World Cup itu aku sampe sekarang suka sama sepak bola. Aku suka menonton sepak bola, mengikuti berita tentang bola itu, dan segala macam tentang sepak bola. Bahkan aku selalu jatuh cinta dengan laki-laki yang jago main bola, siapapun itu he's totally awesome, just like Kaka! Haha. 11 Tahun setelah Brazil menjadi juara, Juni-Juli 2014 nanti pertandingan terkece sedunia akan digelar di negara favoritku, Brazil. AND I WANNA GO THERE! Really really want. Moment yang pas ketika pertandingan sepak bola yang aku suka diadakan dinegara yang aku suka juga di bulan yang aku suka. Ini salah satu mimpi yang semoga bisa tercapai pas di bulan Juni 2014. Ingat udah lama aku suka sepak bola dan 2014 diadakan ditempat juara dunia, wooow. Somebody, please take me there in June 2014 please!!!!

Selasa, 11 Juni 2013

Separuh Juni yang Susah Ditebak

Haaaaaah. Hela nafas sebentar ya. Bulan juni ini semua emosiku keluar. Mulai dari senang, sedih, marah (paling banyak), bete, semuanya udah keluar. Meskipun bulan juni belum selesai, bahkan sampai pertengahan ini saya bener-bener mengalami kejadian yang membuat mood up down, serius. Dimulai dari senang mendaftar praktek lapang di tempat yang ingin dituju, kemudian kecewa karena ternyata PHP, bersyukur karena ada teman-teman senasib, marah ketika tahu sekelompok sama orang yang "zonk", semakin marah dan kecewa karena ternyata saya ga ikhlas sampai detik ini menjalaninya, panik karena ada deadline proposal skripsi disaat masa UAS, sedih karena ada kejadian-kejadian bikin mood langsung ancur, terakhir deg-degan karena jadwal kolokium skripsi udah diumumkan.

Itu baru kejadian sampai pertengahan juni, entah gimana nanti kalau udah Juni sebulan full semakin ga bisa ditebak kayanya. Bulan-bulan sebelumnya, saya bisa "mengatur" kejadian sehari-hari dan tahu alur kejadian itu nantinya akan kemana. Tapi yang ini beda, mungkin karena banyak hal yang dipikirkan kali ya jadi banyak juga kejadian-kejadiannya dan semakin saya ga bisa "ngatur" jalan itu. Semua emosi keluar di separuh bulan ini. Harusnya sih bulan ini menjadi bulan yang spesial tanpa harus ada emosi yang keluar selain emosi senang atau bahagialah. Juni Tahun 2013 menjadi bulan di tahun yang super sibuk, riweuh, panik, segalanya ada deh. Salut sama separuh bulan juni ini. 

Oh iya, satu lagi. Bulan Juni adalah bulan UAS, selalu. Anehnya, uas semester ini ga merasa kalau ada uas. Belajar susah masuk ke otak, udah kepenuhan kayanya. Semangat buat belajar ga tau kemana, pengen segera skripsi kayanya. Jenuh pake banget dengan masa-masa ujian sekarang. Kalau boleh sih skip masa UAS aja tapi nilai akhir tetep ada. Pengennya.

Another shocking moment today, saya kebagian kolokium tanggal 28 Juni jam 14.00. Saya doang kayanya yang shock, deg-degannya ga ketulungan. Perasaan ada aja yang harus dipikirin. Ketika satu hal sudah beres muncul hal lain yang butuh otak buat mikir. Sabar ya otak, nanti suatu saat kamu akan istirahat. Nah sebelum kolokium itu saya berencana pulang ke kampung halaman tapi ga enak sama temen saya. Tadinya mau berencana pulang bareng tanggal 25 karena saya dapat info kalau kolokium skripsi saya tanggal 24. Tapi ternyata dimundurin jadi saya pulang duluan meninggalkan dia. Maaf ya teman, ga bermaksud tapi mau gimana lagi.

Terakhir, semoga bulan ini dapat saya lalui dengan baik dan sesuai dengan "jalan"nya. Bersahabatlah sisa juni ini!

Minggu, 09 Juni 2013

Ikhlas?

Ikhlas..
Itu susah loh ternyata. Emang susah sih, dan harus dilakuin. Ini hanya sedikit cerita tentang ikhlas. Ketika kita tahu kalau ternyata kenyataan ga sesuai dengan yang diharapkan, disaat itulah ikhlas dibutuhkan. Aku mengakui sampai saat ini aku blm ikhlas dengan kenyataan sekarang.
Cerita sedikit, beberapa minggu ini aku sedang kesal, sangat kesal bahkan dengan 'mereka' yang mendapatkan sesuatu sesuai dengan harapan dan keinginannya. IRI? MEMANG! salah? aku pikir ga. Ada satu tugas praktek lapang dimana kita ditempatkan di suatu daerah. Awalnya disuruh memilih daerahnya dengan pilihan yang ada. Aku memilih dan mereka juga memilih dengan harapan aku ditempatkan di daerah yang aku pilih. Ternyata aku dilempar ke daerah lain. Daerah yang sebenarnya aku sangat benci dan ga ingin ke tempat itu. Kesel, iya karena aku merasa penempatannya ga adil dan ga transparan. Tuhan emang Maha Adil, aku ditempatkan disana dengan teman-teman yang baik dan pasti siap saling membantu. Tapi tetep ga bisa ikhlas. Setelah berita shock ini besoknya aku dikasih another shocking news. Ternyata aku sekelompok sama orang ter-ZONG. Makin kesel aku, pembagian ga jelas, anggota kelompok ga jelas, lengkap. Ikhlas? semakin ga. 'Mereka' semakin puas dengan daerah masing-masing, aku ga. Aku semakin ga puas dengan daerah dan kelompokku. Memang ada beberapa temen anggota yang baik dan aku kenal, tapi tetap aja. Aku iri sama mereka, sangat. Terkadang kesel dengan beberapa orang yang bilang sabar aja, mungkin ini yang terbaik yang dikasih Tuhan, Tuhan memberikan apa yg kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan. Memang, tapi coba rasakan kalau jadi aku kalian bisa bilang apa? Nothing to say pasti. Semua perkataan itu ga membuat aku lebih baik sebenarnya, tapi worst. Lebih baik semuanya diam tanpa ada yang harus membahas masing-masing, semakin banyak yang bicara, semakin kesal, dan semakin ga ikhlas. IKHLAS? aku rasa belum. KAPAN MAU IKHLAS? entahlah. 
Ini hanya curahan sedikit aja, ga ada maksud menyinggung siapapun. Kalau tersinggung ya maaf. Sekian.

Kamis, 11 April 2013

Menangis


     Menangis. satu kata, satu tindakan penuh makna. Pernahkah kamu menangis? Pernahkah aku menangis? Pernahkah kita menangis? pernah. Tanda kehidupan manusia diawali dari menangis. Bayi baru lahir perlu menangis. Kita semua butuh menangis.
     Kapan kita menangis? Kenapa kita menangis? Dimana kita menangis? Saat bahagia, kita menangis. Saat kita sedih, menangis, saat tidur kita menangis. Saat kehilangan seseorang, kita menangis. Saat bertemu orang, kita menangis. Saat kangen seseorang, kita menangis. Saat marah dan kesal, aku menangis. Dimanapun kita menangis, dengan berbagai alasan pun kita bisa menangis
     Saat aku menulis ini aku sedang menangis. Aku kangen bapak makanya menangis. Aku kangen ibu, makanya aku menangis. Aku kangen Menying, makanya aku menangis. Aku kangen (almh) Mona makanya aku menangis. Aku takut makanya menangis. Takut, ketika nanti diambil kembali apa yang telah aku berikan kepada orang lain? keluarga? sahabat? teman? Makanya aku menangis. Aku ingin memberikan banyak hal kepada mereka.
     Menangis adalah suatu kebutuhan menurutku. Semua orang butuh menangis. Selagi ada kesempatan, menangislah meskipun tidak ada masalah. Kita menangis bukan berarti ada masalah di dalamnya. Terkadang kita perlu mencurahkan isi hati lewat menangis.
     Aku tidak pandai membuat kata-kata indah seperti dalam novel ataupun cerpen. Aku hanya bisa menyampaikan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Ini hanya kata biasa yang menggambarkan menangis.