Sometimes, aku merasa jalan yang sedang aku lewati ini bukan jalanku. Jalan yang aku tempuh dengan orang lain tempuh itu berbeda. Aku merasakan kalau jalan yang aku lewati terlalu terjal, terlalu berliku, dan terlalu panjang untuk dilewati. Bukannya mengeluh, tapi memang itu yang terjadi. Kenapa aku harus melewati jalan itu?
Banyak jalan yang tersedia untuk aku lewati pada awalnya, tapi aku memilih jalan yang orangtua berikan. Jalan itu kupikir akan menjadi jalan terbaik. Terbaik untuk orang tuaku mungkin iya, tapi sebenarnya jalan itu terlalu sulit untuk dilewati, saat itu. Aku tau saat itu tujuan akhir dari jalan yang aku lewati dan sebenarnya semua jalan yang tersedia berujung pada satu muara. Tapi yang menjadi perbedaan adalah seberapa panjang jalan itu, seberapa sulit jalan itu, seberapa kemauan kita untuk melewati jalan itu, seberapa jauh kemampuan kita melewati jalan itu, seberapa seberapa dan seberapa. Aku bisa melewati jalan pertama itu namun nothing special. Menjadi orang biasa dalam melewati jalan itu dan mudah dilupakan orang bahkan mereka tidak ingat kalau aku pernah ada di jalan itu. Pertama yang aku sadari saat itu adalah aku harus menjadi orang luar biasa agar bisa dianggap. Mungkin ada orang yang menganggap itu terlalu berlebihan atau bahkan lebay tapi itulah kebenaran. Kita tidak akan dianggap dalam hidup ini kalau kita tidak membuat sesuatu yang berguna.
Ketika aku berjalan, aku menemukan sebuah persimpangan atau perempatan. persimpangan ini membuatku berpikir, "jalan mana yang harus aku pilih?" Ketika orang tua sudah memberikan kebebasan kepadaku untuk memilih jalan mana yang aku anggap akan memudahkanku mencapai tujuan, mereka berarti yakin pada keputusanku. Namun masalahnya, apakah jalan ini benar jalan untukku? Entahlah, hanya Allah SWT yang tau karena Dia yang membuatkan rencanaku. Aku memilih jalan lain di persimpangan itu dengan harapan jalan ini akan lebih memudahkanku mencapai tujuan. Harapanku dengan putusan Tuhan ternyata tidak sama. Jalan ini ternyata lebih terjal, lebih sulit untuk dilewati dan aku hampir terseok-seok melewatinya. Bahkan aku terancam keluar dari jalan itu kalau halangan-halangan di jalan tidak bisa aku lewati. Aku menyadari saat aku berjalan banyak hal yang membuatku terlena dan akhirnya menyesalkan atas perbuatanku itu. Penyesalan, memang adanya di akhir. Aku menyesal ketika berjalan dengan tidak fokus, aku menyesal ketika berjalan tidak memperhatikan, aku sangat menyesal. Allah memberikanku kesempatan untuk dapat berjalan sampai ke pertigaan dengan 'bensin yang menipis'. Aku sampai dipertigaan dengan diberikan kesempatan yang penuh resiko. Ketika aku memilih jalan ini aku akan kehilangan kesempatan menuju tujuanku dengan cepat dan kecewa karena tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih kepada orang tua. Ketika aku memilih jalan yang itu aku akan dihadapkan pada resiko kembali ke pertigaan dan memilih jalan yang ini. Aku mulai mempertimbangkan banyak hal saat aku memilih jalan ini atau jalan itu. Jalanan yang sudah aku lewati sebelumnya sangat sangat berdampak dan berpengaruh pada jalan yang akan aku pilih ini. Melalui orangtua dan Allah memberikan pencerahan, aku akhirnya memilih jalan yang itu. Harapanku hanya satu saja, membuatku mencapai tujuan akhir dengan didampingi senyum bangga orang tua. Ketika aku mantap memilih jalan itu, aku melakukan kesalahan kecil yang pada akhirnya akan berdampak besar di akhir. Aku belum bisa mengatakan dampak akhirnya apa namun aku sangat takut, takut sekali dengan akhir yang akan aku hadapi nanti. Sebenarnya pantas mungkin aku bilang bahwa aku bodoh dengan kekeliruan yang telah aku buat, tapi mungkin Allah berkata inilah jalan yang tepat, inilah jalan yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan. Sari bilang padaku ketika aku telah melakukan kesalahan, "ini jalan yang Allah berikan ke kamu untuk eksplore diri kamu secara lebih, jadi kamu ga akan stuck di pengetahuan itu aja". Maybe yes, tapi aku butuh waktu yang lebih. Aku butuh istirahat sejenak sebelum aku berjalan kembali dan memikirkan apa yang telah aku lakukan di jalan tersebut. Mungkin ini memang jalan yang aku butuhkan, mungkin juga tidak. Hanya Allah yang akan menuntunku melewati jalan ini dan sampai pada tujuan akhirku nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar