Ada saat dimana seseorang itu mempunyai rasa bersalah yang amat sangat. Rasa bersalah itu muncul dari kesalahan terakhir yang dibuat tapi itu merupakan kompilasi dari semua rasa bersalah yang ada. Apalagi kalau ini berkaitan dengan orang yang disayanginya, rasa bersalah itu bisa tidak terlupakan oleh hiburan apapun. Ini yang saya alami saat ini. Entah kenapa saya sangat merasa bersalah untuk sesuatu hal kepada orang tua, terutama ibu. Meskipun ibu sebenarnya tidak menganggap hal yang terjadi pada saya ini tidak begitu bermasalah hanya saja saya dapat pengalaman yang sangat penting.
Intinya, saya udah menghilangkan uang orang tua untuk hal yang sebenernya bisa dicegah jika saya berpikir tenang dan tidak terburu-buru. Salah satu kelemahan saya, "grusa-grusu" kalo kata orang jawa. Ketika ada suatu kejadian yang melibatkan peran saya, maka pikiran yang selintas di otak ini yang saya akan ambil dan menyesal di akhir. Terakhir terjadi ya begitu, karena pikiran saya pendek itu orangtua jadi ikut terbawa suasana buru-buru itu tadi dan begitulah, hilang sudah. Uang itu "hilang" ke orang yang tidak tepat atau bisa dibilang saya kena tipu. Kejadiannya begitu singkat, by phone dan seolah saya kena hipnotis karena begitu meyakinkan acara tersebut. Sampai sekarang sebenarnya saya yakin kalau itu bukan sebuah penipuan tp orang tua bilang kalau ini adalah penipuan.
Pada saat kejadian, ya karena pikiran saya yang pendek saya ngikut aja perintah mereka dan orang tua yang saya telpon juga begitu. Ketika diminta melakukan transfer berulang kali baru sadar kalau ini bukan langkah yang tepat untuk acara tersebut. Dari situ baru sadar kalau ini adalah penipuan. Berulang kali telpon ibu dan diskusi singkat pada saat kejadian yang akhirnya sampai pada kesimpulan kalau saya kena tipu setelah transfer sekian uang. Versi lebaynya sih, dunia berhenti sejenak, suara-suara menghilang dan jadi hening. Tanpa sadar saya meneteskan air mata tapi berusaha tidak terlihat menangis karena masih telponan sama ibu. Baru setelah telpon ditutup, saya menundukkan kepala dan tes..tes..tes.. sambil berharap tidak ada orang yang lewat dijalan itu dan mengenali muka saya. Seketika juga mood saya hancur bahkan sampai hari setelah kejadian ini.
Sebenarnya ikhlas dengan materi yang udah hilang itu karena yang punya uang, orang tua, juga sudah mengikhlaskan. Tapi yang membuat saya tetap merasa bersalah adalah ini terjadi karena saya berpikir pendek, tidak mencerna terlebih dulu apa yang sedang terjadi. Analisa saya kurang pada saat itu karena saya terlalu senang untuk mendapatakan kesempatan membahagiakan orang tua. Yang saya inginkan adalah orang tua bahagia karena saya sudah dapat mandiri dengan kehidupan baru saya nanti tapi yang ada adalah saya membuat mereka kehilangan lagi. Ibu berkata, " ya ini harganya pengalaman yang kamu dapet, kalau ga ngeluarin uang itu maka kamu ga akan dapet pengalaman semacam ini kan". Iya juga, bener kok kata ibu. Tapi tetap aja, semuanya di masalalu yang pernah saya buat kesalahan muncul dan rasa bersalah muncul lagi. Pada akhirnya saya hanya bisa menangis karena tidak bisa mengucapkan ini ke orang lain.
Setiap malam cuma bisa bilang maaf sendiri sambil nangis. Bahkan lagu ceria pun berubah menjadi lagu sedih dan saya tetap menangis. Maaf bapak, ibu, saya melakukan kesalahan lagi.