Kamis, 02 Oktober 2014

Lesson From Life

      Hi, here i'm again. there's so many thought in my mind that i wanna tell you bout it. I'm 22 years old right now. In this age, what have I done to others? In this age, What have I learn from lesson? back to past time, I think i'm doing nothing. I live depend on my parents, spend their money, and do nothing.
     Jika sadar dari dulu kalau saya menyukai dunia sosial dan berteman dengan banyak oranng mungkin dari dulu saya melakukan hal-hal yang berguna. Saya banyak belajar dari hidup ini, terima kasih sebelumnya karena saya telah dilahirkan dari orang tua saya, membesarkan saya dengan penuh pelajaran dan mengajarkan saya tentang berbagai hal. Walaupun mereka bukan orang yang "yes" dimata masyarakat tapi di mata saya mereka adalah orang sukses dalam mendidik dan membesarkan saya sampai sekarang.
     Oke, pelajaran dari kehidupan yang saya dapatkan ini adalah pelajaran antara bogor dan madiun. Dua daerah ini banyak memberikan pelajaran penting bagi saya. Pertama, Madiun. Saya tumbuh dan besar di madiun selama 13 tahun karena sebelumnya saya tinggal di Bojonegoro. Disini saya tahu bagaimana menjadi seorang pemimpin, disinilah saya tahu kalau saya ternyata punya jiwa leadership. Bertemu dengan teman-teman di SD, SMP, dan SMA memberikan kesan tersendiri. Selama menempuh pendidikan disana saya merasakan bagaimana menjadi orang yang "dihargai", "disukai" oleh banyak orang, dan merasa memiliki "kedudukan" yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Jujur, itu merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan dimana suara saya didengarkan oleh semua orang, so much fun. Saya merasakan bagaimana serunya berteman dengan banyak orang, mulai dari membentuk "geng" hingga menjalani pertemanan yang biasa. Semua itu saya rasakan. Saya ingat hidup disini memberikan pengalaman juga tentang cinta, haha iya cinta. Bagaimana senangnya bisa menyukai orang lain, disukai oleh orang lain, bahkan sampai disakiti dan dibohongi oleh orang lain. Saya merasakan semuanya. Dan setelah dipikir-pikir ini semua memang bagian dari pelajaran hidup. Puas dengan kondisi saya di saat saya memiliki ke-"eksis"-an diatas teman-teman saya membuat saya menjadi sombong dan selalu ingin "dilihat" oleh orang lain. Saya melakukan banyak hal demi mencapai rasa "eksis" di depan banyak orang. Pikiran saya pendek, saya tidak melihat ada orang lain yang "lebih" dari saya. Kehidupan yang saya jalani sampai saat ini membuat saya bersyukur karena orang tua saya ikut membantu dalam membatasi diri. Tidak seseram teman-teman yang mungkin berhubungan dengan narkoba atau barang haram lainnya tapi pergaulan bebas yang cukup dengan saya sewaktu tinggal di Madiun. Banyak bergaul dengan orang lain membuat saya memiliki banyak teman baru juga dan kenalan. Tapi sayangnya saya tidak memilih siapa mereka dan bagaimana perilaku mereka. Saya dekat dengan teman-teman yang suka minum minuman keras, saya dekat dengan teman-teman yang suka bergaul tanpa batas. Tapi untungnya orang tua membatasi dan memberikan pelajaran pada saya tindakan mana yang harus saya ambil. Sekarang, saat notes ini ditulis, banyak hal yang berubah dari madiun. Saya tetap berteman dengan mereka tapi dengan pembatasan diri. Pelajaran pentingnya adalah Orang tua pasti tau yang terbaik buat anaknya dan mereka akan memberikan pelajaran yang tidak disadari oleh anaknya saat itu, Hidup untuk eksis akan membawa petaka di waktu nanti, inilah yang saya rasakan.
     Kedua adalah Bogor. Hampir 4 tahun saya tinggal disini untuk menempuh pendidikan. Selama 3 tahun yang telah saya lalui banyak hal yang saya dapatkan, banyak sekali. Saya bertemu dengan orang-orang baru, sahabat-sahabat baru, orang tua baru, saudara baru, sampai dengan budaya yang baru. Disini saya belajar tentang banyak hal, termasuk dengan ke-eksis-an yang telah saya bawa dari madiun. Terbiasa dengan perhatian yang diberikan oleh orang lain saya melakukannya di dunia perkuliahan ini. Ini saya lakukan tanpa sadar bahwa disini berbeda dengan disana. Banyak kepala dengan banyak pikiran belum tentu akan menerima apa yang saya lakukan. Dan ternyata benar, kesombongan saya berdampak pada "manipulasi" pertemanan. Banyak orang-orang yang menjadi teman di depan tapi berkata di belakang. Hal ini membuat saya sadar, menjadi saya yang tidak mengicar eksis akan jauh terasa lebih baik karena saya tahu siapa yang akan menjadi "teman" saya. Jauh dari orang tua, bersama dengan teman lain kami merasa senasib. Sangat menyenangkan bertemu dengan mereka-mereka yang telah memberikan banyak hal. Saya tahu, banyak diantara yang mengenal saya pasti tidak suka dengan saya, saya tahu itu. Dan mungkin saya juga saya mungkin tidak suka dengan mereka. It's okay because this is life anything can happen. I can hate you, so do you. Belajar berbagi dengan orang-orang yang lebih membutuhkan sangat lebih terasa disini. Saya jadi tahu bagaimana rasanya membantu orang lain dan bagaimana rasanya membutuhkan bantuan orang lain. So many kind people in here. Bersyukurlah di setiap keadaan dan pasti ada orang baik disekitarmu, percayalah.
     Ada quote yang berkata, the best lesson in this world is experience and we get experience from life. So, as long as I still live in this world I will do the best to get my best experience :) -the end-