Setiap orang memiliki kebebasan untuk menyampaikan pendapat di muka umum kan? itu adalah hak. Begitu pun saya, sebagai warga negara Indonesia saya punya hak untuk mengutarakan pendapat saya lewat tulisan ini. Oke, ini merupakan kekesalan seseorang terhadap institusi yang dia anggap tidak adil.
Teman saya, Bunga, suatu ketika ia mendaftar beasiswa X melalui online. Tapi dia tidak mengumpulkan berkas ke pihak yang terkait, dan ketika mau mengumpulkan berkas ternyata sudah lewat deadlinenya. Jadi dipikirnya beasiswa itu tidak berlaku lagi. Setelah 3 minggu, tiba-tiba dia dapat sms kalau dia lolos beasiswa X dan harus melakukan tes wawancara. Bunga tidak percaya karena dia merasa tidak mengumpulkan berkas ke pihak terkait. Ia tidak tahu ternyata memang langkah awalnya hanya mendaftar online. Karena tidak percaya, dia tanya ke pihak yang memberikan pesan tes wawancara itu. Kira-kira seperti ini smsnya:
(B : Bunga, P : pihak yang mengirimkan pesan wawancara)
P : "Selamat kepada calon penerima beasiswa X untuk mengikuti wawancara di tempat Y Jumat 5 April pukul 08.00-16.00"
B : "maaf apakah ini benar? saya tidak merasa mengumpulkan berkas untuk beasiswa tersebut, saya hanya daftar online saja"
P : "tahap awal memang hanya pendaftaran online. Setelah berhasil tes wawancara nanti baru tahap selanjutnya pengumpulan berkas"
B : "oh begitu, terima kasih"
Nah, hari jumatnya teman saya datang ke tempat Y tersebut untuk wawancara. Dia datang kesana jam 4 sore setelah ujian, karena memang di kampus sedang ujian tengah semester (uts). Disana, Bunga bertemu dengan Ibu Ani dan dia diwawancarai oleh beliau. Sebelumnya, dia disuruh mengisi form beasiswa. Setelah mengisi form tersebut, Bunga pergi ke ruangan Ibu Ani untuk mulai wawancara. Percakapannya kurang lebih seperti ini:
(B : Bunga, A : Ani)
A : "Yuk Mbak, silakan masuk"
B : "oh iya bu"
A : "oke, Mba Bunga. Sudah pernah daftar beasiswa sebelumnya?"
B : "sudah bu, saya ditolak lima kali oleh beasiswa A hehe"
A : "ditolak?"
B : "iya bu"
Diam sebentar sambil ibunya lihat berkasnya. Kemudian beliau bertanya lagi.
A : "ayah kerja sebagai wiraswasta, wiraswasta apa itu?"
B : "pedagang material bu."
A : "wah lumayan sekali itu, ditambah ibu yang PNS"
Lihat berkas lagi dan ibunya berkata, "Pantas saja kamu ditolak terus beasiswanya" (sambil tertawa)
Dalam hati Bunga, kenapa ibunya tertawa? apa ada yang salah dengan berkasku itu? Dia tanya ke ibunya
B : "Apa yang salah ya bu?"
A : "hahaha. Jadi gini ya mbak, memang beasiswa seperti beasiswa A itu yang diutamakan adalah prestasi tapi ketika prestasi kamu sama dengan yang lain itu yang dilihat adalah keadaan ekonomi. Pantas saja kamu selalu gagal dengan beasiswa itu"
Oh jadi begitu. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika seseorang dengan keadaan finansial MAMPU dengan prestasi yang sama dengan Bunga bahkan lebih tinggi dia (bukan bermaksud merendahkan) tetapi dia mendapatkan hal tersebut, apa itu pantas diberikan? Mungkin memang rejeki mereka yang mendapatkannya dengan kemampuan ekonomi yang sangat sangat mampu. Kalau memang prestasi dan keadaan ekonomi yang kurang mampu yang diutamakan ya harusnya mereka yang begitu yang pantas mendapatkannya. Sebenarnya Bunga saat itu ingin meluapkan emosinya tapi tertahan karena jika dia berbicara begitu maka bisa menghambat rejeki orang lain. Diam akan menjadi yang sangat baik. Kenyataan lain yang ada adalah dalam pemilihan penerima beasiswa, pemilihannya secara acak (berarti berdasarkan Lucky) bukan prestasi ataupun keadaan ekonomi, bagus sekali itu.
Saran saja sih, kalau memang beasiswa itu untuk mahasiswa atau murid yang prestasinya bagus DAN keadaan ekonomi kurang mampu, ya berikan kepada mereka yang membutuhkan bukan yang menginginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar